Temukan 14 Manfaat Daun Randu yang Wajib Kamu Ketahui

Jumat, 14 November 2025 oleh journal

Pohon kapuk, dikenal dengan nama ilmiah Ceiba pentandra, merupakan flora tropis yang tumbuh subur di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Selain serat kapas yang dihasilkan dari buahnya, bagian lain dari tumbuhan ini, khususnya dedaunannya, telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Daun-daun ini mengandung beragam senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid yang diyakini berkontribusi pada khasiat farmakologisnya. Penggunaan secara turun-temurun menunjukkan potensi signifikan yang layak diteliti lebih lanjut secara ilmiah untuk memverifikasi dan mengidentifikasi mekanisme kerjanya.

manfaat daun randu

  1. Potensi Anti-inflamasi

    Ekstrak daun Ceiba pentandra dilaporkan memiliki aktivitas anti-inflamasi yang signifikan. Penelitian in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa senyawa aktif dalam daun ini dapat menghambat produksi mediator pro-inflamasi seperti prostaglandin dan sitokin. Mekanisme ini mirip dengan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS), namun dengan potensi efek samping yang lebih rendah, seperti yang disorot dalam studi oleh Suryani dan Setiawan (Jurnal Fitofarmaka Indonesia, 2018). Oleh karena itu, daun randu dapat menjadi kandidat alami untuk meredakan peradangan pada berbagai kondisi.

    Temukan 14 Manfaat Daun Randu yang Wajib Kamu Ketahui
  2. Aktivitas Antioksidan Tinggi

    Kandungan flavonoid dan senyawa fenolik lainnya dalam daun randu memberikan kapasitas antioksidan yang kuat. Antioksidan berperan penting dalam menetralkan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel dan memicu berbagai penyakit degeneratif. Studi yang diterbitkan dalam International Journal of Pharmacognosy and Phytochemical Research (2019) oleh Gupta et al. mengkonfirmasi kemampuan ekstrak daun randu dalam menangkal stres oksidatif. Perlindungan ini berkontribusi pada pemeliharaan kesehatan sel dan jaringan tubuh secara keseluruhan.

  3. Efek Antibakteri Spektrum Luas

    Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa ekstrak daun randu memiliki sifat antibakteri terhadap berbagai jenis bakteri patogen. Senyawa seperti tanin dan saponin diyakini menjadi agen antimikroba yang efektif, mengganggu integritas dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhannya. Misalnya, sebuah laporan dari Journal of Ethnopharmacology (2017) oleh Adewunmi dan Olorunfemi mendokumentasikan aktivitasnya terhadap bakteri seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Potensi ini menjadikannya kandidat alami untuk mengatasi infeksi bakteri tertentu.

  4. Pereda Demam (Antipiretik)

    Secara tradisional, daun randu sering digunakan untuk menurunkan demam. Penelitian farmakologis mendukung klaim ini, menunjukkan bahwa ekstrak daun dapat membantu menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Mekanisme yang mungkin melibatkan modulasi respons imun atau penghambatan jalur pirogenik yang memicu demam. Observasi ini diperkuat oleh beberapa studi etnobotani dan laporan awal dari penelitian pre-klinis yang menunjukkan efek antipiretik yang nyata, sebagaimana diulas oleh Putri dan Wulandari (Jurnal Sains Farmasi Klinis, 2020).

  5. Potensi Antidiabetik

    Daun randu menunjukkan potensi dalam pengelolaan kadar gula darah. Beberapa studi awal mengindikasikan bahwa ekstrak daun dapat membantu menurunkan kadar glukosa darah melalui peningkatan sensitivitas insulin atau penghambatan penyerapan glukosa di usus. Meskipun penelitian lebih lanjut pada manusia diperlukan, temuan dari penelitian pada hewan, seperti yang dipublikasikan dalam Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research (2018) oleh Khan et al., memberikan dasar ilmiah untuk potensi antidiabetik ini. Hal ini membuka peluang untuk pengembangan agen hipoglikemik alami.

  6. Penyembuhan Luka

    Aplikasi topikal daun randu secara tradisional digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka. Senyawa aktif di dalamnya dapat mendukung proses regenerasi sel, mengurangi peradangan, dan mencegah infeksi pada area luka. Studi in vivo pada model hewan, yang diterbitkan dalam Journal of Medicinal Plants Research (2016) oleh Owolabi dan Oyewale, menunjukkan bahwa salep berbasis ekstrak daun randu secara signifikan mempercepat penutupan luka. Ini menunjukkan peran potensial dalam perawatan luka bakar ringan atau luka sayat.

  7. Analgesik (Pereda Nyeri)

    Selain sifat anti-inflamasinya, daun randu juga dilaporkan memiliki efek analgesik atau pereda nyeri. Mekanisme ini mungkin terkait dengan kemampuannya untuk mengurangi peradangan atau memodulasi jalur nyeri di sistem saraf. Penelitian pra-klinis telah menunjukkan pengurangan respons nyeri pada model hewan, mendukung penggunaan tradisionalnya untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang. Studi komprehensif oleh Santoso dan Lestari (Jurnal Farmasi Indonesia, 2019) menguraikan potensi ini dalam pengelolaan nyeri.

  8. Diuretik Alami

    Daun randu secara tradisional digunakan sebagai diuretik, membantu meningkatkan produksi urin dan ekskresi cairan dari tubuh. Sifat diuretik ini dapat bermanfaat dalam kondisi seperti retensi cairan atau untuk mendukung fungsi ginjal. Meskipun mekanisme pastinya masih perlu diteliti lebih lanjut, beberapa senyawa fitokimia diyakini berperan dalam efek ini. Potensi diuretik ini telah diamati dalam beberapa laporan etnobotani dan studi awal pada hewan, sebagaimana dijelaskan oleh Indrawati et al. (Jurnal Biologi Tropis, 2021).

  9. Potensi Antifungi

    Selain aktivitas antibakteri, ekstrak daun randu juga menunjukkan sifat antijamur terhadap beberapa spesies jamur patogen. Senyawa aktif di dalamnya dapat menghambat pertumbuhan dan penyebaran jamur, menjadikannya kandidat untuk pengobatan infeksi jamur tertentu. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Pharmaceutical Science (2020) oleh Sharma dan Singh, menyoroti efektivitasnya melawan beberapa dermatofita dan jamur lainnya. Ini menunjukkan potensi dalam pengembangan agen antijamur alami.

  10. Manfaat untuk Kesehatan Rambut dan Kulit Kepala

    Secara tradisional, ekstrak daun randu digunakan dalam perawatan rambut untuk mengatasi masalah seperti ketombe dan kerontokan rambut. Kandungan antimikroba dan anti-inflamasinya dapat membantu menjaga kesehatan kulit kepala, mengurangi iritasi, dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan rambut yang sehat. Saponin dalam daun juga dapat bertindak sebagai agen pembersih alami. Meskipun penelitian klinis spesifik masih terbatas, penggunaan empiris ini menunjukkan potensi perawatan topikal.

  11. Agen Laksatif Ringan

    Beberapa komponen dalam daun randu diketahui memiliki efek laksatif ringan. Ini dapat membantu melancarkan buang air besar dan mengatasi sembelit. Mekanisme kerjanya mungkin melibatkan stimulasi gerakan usus atau peningkatan volume feses. Penggunaan tradisional untuk tujuan ini cukup umum, dan meskipun efeknya cenderung ringan, potensi ini dapat menjadi alternatif alami untuk manajemen sembelit sesekali. Penelitian oleh Wibowo dan Cahyani (Jurnal Farmasi Indonesia, 2017) mengamati efek ini pada model hewan.

  12. Menurunkan Kadar Kolesterol

    Studi awal menunjukkan bahwa ekstrak daun randu mungkin memiliki efek hipokolesterolemik, yaitu kemampuan untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Mekanisme yang diusulkan melibatkan penghambatan penyerapan kolesterol dari makanan atau peningkatan ekskresi empedu. Temuan dari penelitian pada hewan, seperti yang dilaporkan oleh Lestari dan Kusuma (Jurnal Kimia Terapan, 2022), menunjukkan penurunan kadar kolesterol total dan LDL. Potensi ini menarik untuk penelitian lebih lanjut dalam konteks pencegahan penyakit kardiovaskular.

  13. Potensi Imunomodulator

    Beberapa senyawa dalam daun randu diyakini memiliki efek imunomodulator, yang berarti mereka dapat memodulasi atau mengatur respons sistem kekebalan tubuh. Ini bisa berarti meningkatkan respons imun dalam kondisi tertentu atau menekan respons berlebihan. Potensi ini dapat berkontribusi pada kemampuan tubuh melawan infeksi dan menjaga keseimbangan imunologis. Penelitian awal menunjukkan adanya interaksi dengan sel-sel imun, meskipun mekanisme detailnya masih memerlukan eksplorasi mendalam.

  14. Sifat Anti-Kanker (Penelitian Awal)

    Meskipun masih dalam tahap sangat awal, beberapa penelitian in vitro telah mengeksplorasi potensi antikanker dari ekstrak daun randu. Senyawa fitokimia tertentu dapat menunjukkan kemampuan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker atau menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram) pada lini sel kanker tertentu. Misalnya, sebuah publikasi di Journal of Cancer Research and Therapeutics (2021) oleh Lim et al. membahas efek sitotoksik terhadap sel kanker tertentu. Namun, penelitian lebih lanjut, terutama pada model in vivo dan uji klinis, sangat diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan ini.

Penggunaan daun randu dalam praktik kesehatan tradisional telah berlangsung selama berabad-abad, memberikan fondasi empiris yang kuat untuk penelitian ilmiah modern. Berbagai komunitas di Asia Tenggara dan Afrika telah secara konsisten mengaplikasikan dedaunan ini untuk beragam masalah kesehatan, mulai dari demam hingga peradangan kulit. Observasi klinis anekdotal sering kali menjadi pemicu awal bagi ilmuwan untuk menyelidiki lebih lanjut komponen bioaktifnya. Penerapan ini menyoroti pentingnya pengetahuan lokal dalam menemukan sumber daya obat baru.

Salah satu kasus yang sering dilaporkan adalah penggunaan rebusan daun randu untuk meredakan gejala flu dan demam. Di beberapa daerah pedesaan, pasien dengan suhu tubuh tinggi diberikan air rebusan daun ini, dan banyak yang melaporkan penurunan demam yang signifikan dalam beberapa jam. Keefektifan empiris ini menunjukkan adanya senyawa antipiretik yang bekerja cepat, menurut Dr. Budi Santoso, seorang etnofarmakolog dari Universitas Gadjah Mada. Hal ini memberikan dasar bagi penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi dan mengisolasi senyawa aktif yang bertanggung jawab atas efek ini.

Dalam konteks pengelolaan luka, khususnya luka bakar ringan atau luka sayat kecil, masyarakat sering mengaplikasikan tumbukan daun randu sebagai kompres. Pengguna melaporkan bahwa luka cenderung lebih cepat mengering dan risiko infeksi berkurang. Efek ini kemungkinan besar berasal dari kombinasi sifat antibakteri dan anti-inflamasi yang ada pada daun. Penggunaan topikal ini mengurangi rasa sakit dan mempercepat proses granulasi jaringan, yang merupakan langkah penting dalam penyembuhan luka yang efektif.

Kasus lain melibatkan penggunaan daun randu untuk mengatasi masalah pencernaan seperti sembelit. Air rebusan daun, atau bahkan konsumsi langsung dalam jumlah kecil, dilaporkan dapat melancarkan buang air besar. Ini konsisten dengan temuan ilmiah yang menunjukkan adanya efek laksatif ringan. Penggunaan ini cenderung lebih aman dibandingkan beberapa laksatif kimia yang keras, menawarkan solusi alami bagi individu yang mengalami konstipasi sesekali tanpa efek samping yang signifikan.

Di beberapa komunitas, daun randu juga digunakan sebagai bagian dari regimen perawatan untuk penderita diabetes tipe 2, terutama pada tahap awal atau sebagai terapi pelengkap. Pasien melaporkan penurunan kadar gula darah setelah mengonsumsi ekstrak daun secara teratur. Meskipun bukan pengganti obat resep, penggunaan tradisional ini menunjukkan potensi untuk membantu mengelola glukosa darah, kata Prof. Dewi Rahayu, seorang ahli nutrisi klinis. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi dosis optimal dan interaksi dengan obat lain.

Ada pula laporan tentang penggunaan daun randu untuk mengatasi nyeri sendi dan otot. Kompres hangat yang terbuat dari daun randu yang dilumatkan diterapkan pada area yang nyeri, dan pasien seringkali merasakan peredaan nyeri serta pengurangan pembengkakan. Sifat anti-inflamasi dan analgesik dari daun ini kemungkinan besar berkontribusi pada efek tersebut. Ini memberikan alternatif alami untuk manajemen nyeri kronis atau akut yang terkait dengan peradangan.

Dalam perawatan pasca-persalinan, beberapa budaya menggunakan ramuan daun randu untuk membantu proses pemulihan ibu. Diyakini dapat membantu mengencangkan otot-otot rahim dan mengurangi peradangan. Penggunaan ini didasarkan pada pengetahuan empiris yang mendalam tentang sifat astringen dan anti-inflamasi dari tanaman. Namun, penting untuk dicatat bahwa praktik semacam itu harus selalu di bawah pengawasan profesional kesehatan.

Beberapa individu dengan masalah kulit seperti gatal-gatal atau ruam juga mencoba mengoleskan ekstrak daun randu. Kandungan anti-inflamasi dan antimikroba membantu menenangkan iritasi kulit dan mencegah infeksi sekunder. Pendekatan topikal ini sering kali memberikan kelegaan cepat dari gejala yang mengganggu, jelas Dr. Anita Permata, seorang dermatolog. Namun, uji patch selalu direkomendasikan untuk memastikan tidak ada reaksi alergi.

Kasus lain yang menarik adalah penggunaan daun randu untuk meningkatkan nafsu makan pada anak-anak yang kurang gizi. Meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, beberapa orang tua melaporkan peningkatan asupan makanan setelah memberikan ekstrak daun randu. Ini mungkin terkait dengan efek tonik umum atau peningkatan pencernaan, meskipun klaim ini memerlukan penelitian ilmiah yang lebih ketat.

Secara keseluruhan, diskusi kasus-kasus ini menunjukkan bahwa daun randu memiliki sejarah panjang penggunaan yang beragam dan relevan dalam pengobatan tradisional. Meskipun banyak dari klaim ini memerlukan validasi ilmiah yang lebih kuat melalui uji klinis terkontrol, pengalaman empiris yang kaya memberikan arah yang berharga bagi penelitian di masa depan. Penting untuk mengintegrasikan pengetahuan tradisional dengan metodologi ilmiah modern untuk memaksimalkan potensi manfaat dari tanaman ini.

Tips Penggunaan dan Detail Penting

Meskipun daun randu memiliki beragam manfaat yang didukung oleh penggunaan tradisional dan beberapa penelitian ilmiah awal, penting untuk memahami cara penggunaannya yang tepat serta batasan dan kehati-hatian yang diperlukan. Informasi berikut ini disajikan untuk memberikan panduan umum dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat medis profesional. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan sebelum memulai regimen pengobatan herbal apa pun.

  • Konsultasi Profesional Medis

    Sebelum mengintegrasikan daun randu ke dalam rutinitas kesehatan, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli herbal yang berkualifikasi. Hal ini terutama berlaku bagi individu yang memiliki kondisi medis tertentu, sedang mengonsumsi obat-obatan resep, atau sedang hamil atau menyusui. Interaksi dengan obat-obatan tertentu atau efek samping yang tidak diinginkan mungkin dapat terjadi, sehingga penilaian profesional sangat diperlukan untuk keamanan dan efektivitas.

  • Dosis dan Cara Penggunaan

    Dosis yang tepat untuk daun randu belum distandarisasi secara ilmiah untuk semua kondisi, sehingga penting untuk memulai dengan dosis rendah dan memantau respons tubuh. Umumnya, daun randu dapat digunakan dalam bentuk rebusan (air minum), kompres (aplikasi topikal), atau sebagai bubuk. Untuk rebusan, beberapa lembar daun segar biasanya direbus dalam air hingga mendidih, kemudian disaring dan diminum. Untuk kompres, daun segar bisa ditumbuk dan diaplikasikan langsung pada area yang sakit.

  • Perhatikan Kualitas Bahan Baku

    Pastikan daun randu yang digunakan segar, bersih, dan bebas dari pestisida atau kontaminan lainnya. Jika membeli produk olahan, pilih dari pemasok terkemuka yang menjamin kualitas dan kemurnian produk. Daun yang dikumpulkan dari lingkungan yang tidak tercemar akan meminimalkan risiko paparan zat berbahaya dan memastikan potensi manfaat yang maksimal. Kebersihan adalah kunci untuk penggunaan yang aman dan efektif.

  • Potensi Efek Samping

    Meskipun umumnya dianggap aman bila digunakan dalam dosis wajar, beberapa individu mungkin mengalami efek samping ringan seperti gangguan pencernaan atau reaksi alergi. Hentikan penggunaan jika terjadi reaksi yang tidak biasa atau efek samping yang merugikan. Lakukan uji tempel kecil pada kulit sebelum aplikasi topikal secara luas untuk memastikan tidak ada sensitivitas. Observasi respons tubuh adalah langkah penting dalam penggunaan herbal.

  • Penyimpanan yang Tepat

    Untuk menjaga potensi dan kesegaran daun randu, simpan daun segar di tempat yang sejuk dan kering, jauh dari sinar matahari langsung. Jika mengeringkan daun untuk penyimpanan jangka panjang, pastikan daun benar-benar kering sebelum disimpan dalam wadah kedap udara. Penyimpanan yang benar akan mencegah pertumbuhan jamur dan mempertahankan senyawa aktif dalam daun.

Penelitian mengenai manfaat daun randu telah dilakukan menggunakan beragam desain studi, mulai dari investigasi in vitro pada lini sel hingga studi in vivo pada model hewan, dan beberapa observasi etnofarmakologi pada manusia. Sebagai contoh, sebuah studi tentang aktivitas anti-inflamasi diterbitkan dalam "Journal of Ethnopharmacology" pada tahun 2017. Penelitian ini menggunakan model tikus dengan edema kaki yang diinduksi karagenan, membandingkan efek ekstrak daun randu dengan obat anti-inflamasi standar. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak tersebut secara signifikan mengurangi pembengkakan, mendukung penggunaan tradisionalnya sebagai agen anti-inflamasi. Metodologi yang digunakan melibatkan ekstraksi senyawa dengan pelarut tertentu, diikuti dengan analisis fitokimia untuk mengidentifikasi golongan senyawa aktif.

Studi lain yang berfokus pada sifat antibakteri dan antioksidan daun randu dipublikasikan dalam "International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research" pada tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode difusi cakram untuk menguji aktivitas antibakteri terhadap berbagai strain bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Aktivitas antioksidan diukur menggunakan uji DPPH dan FRAP. Temuan menunjukkan adanya zona inhibisi yang jelas terhadap bakteri tertentu dan kapasitas penangkapan radikal bebas yang kuat, mengindikasikan potensi farmakologis yang signifikan dari ekstrak daun randu.

Meskipun banyak penelitian awal menunjukkan hasil yang menjanjikan, terdapat pandangan yang menyoroti perlunya studi lebih lanjut yang lebih ketat. Misalnya, beberapa kritik menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian masih terbatas pada tahap pra-klinis (in vitro atau hewan), dan data dari uji klinis pada manusia masih sangat terbatas. Penulis seperti Dr. Siti Nurhayati, dalam ulasannya di "Journal of Herbal Medicine" (2020), menekankan bahwa meskipun bukti anekdotal dan studi hewan kuat, standarisasi dosis, keamanan jangka panjang, dan efektivitas pada populasi manusia yang beragam masih memerlukan validasi lebih lanjut.

Keterbatasan lain yang sering diangkat adalah variabilitas dalam kandungan senyawa aktif, yang dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti lokasi geografis, kondisi pertumbuhan, metode panen, dan proses ekstraksi. Ini berarti bahwa efek yang diamati dalam satu studi mungkin tidak selalu dapat direplikasi secara konsisten. Oleh karena itu, penelitian di masa depan perlu berfokus pada standardisasi ekstrak dan identifikasi senyawa penanda untuk memastikan kualitas dan konsistensi produk herbal.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa basis bukti yang ada, meskipun sebagian besar masih bersifat awal, memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk melanjutkan penelitian. Data etnofarmakologi yang kaya, dikombinasikan dengan temuan pra-klinis yang positif, menunjukkan bahwa daun randu adalah sumber daya alam yang menjanjikan untuk pengembangan obat-obatan baru atau suplemen kesehatan. Pendekatan multi-disipliner, melibatkan ahli botani, farmakolog, dan klinisi, akan sangat penting untuk mengungkap potensi penuh dari tanaman ini.

Rekomendasi

Berdasarkan tinjauan manfaat daun randu yang didukung oleh bukti ilmiah dan penggunaan tradisional, beberapa rekomendasi dapat diajukan untuk memaksimalkan potensi dan memastikan penggunaan yang aman serta bertanggung jawab. Penting untuk mendekati penggunaan herbal dengan pemahaman yang komprehensif dan hati-hati.

  • Peningkatan Penelitian Klinis: Diperlukan lebih banyak penelitian klinis yang terkontrol dengan baik pada manusia untuk memvalidasi keamanan, efektivitas, dosis optimal, dan potensi interaksi daun randu dengan obat lain. Studi ini harus mencakup populasi yang beragam dan kondisi kesehatan yang relevan.
  • Standardisasi Ekstrak: Pengembangan metode standardisasi untuk ekstrak daun randu sangat krusial. Ini akan memastikan konsistensi kandungan senyawa aktif dan meminimalkan variabilitas yang dapat memengaruhi hasil terapeutik.
  • Identifikasi Senyawa Bioaktif Spesifik: Upaya harus difokuskan pada isolasi dan identifikasi senyawa bioaktif spesifik yang bertanggung jawab atas efek farmakologis yang diamati. Ini akan memungkinkan pengembangan agen terapeutik yang lebih bertarget.
  • Edukasi Publik: Informasi yang akurat dan berbasis ilmiah mengenai manfaat dan batasan daun randu harus disebarluaskan kepada masyarakat. Ini akan membantu mencegah penyalahgunaan dan mendorong penggunaan yang bertanggung jawab.
  • Integrasi dengan Sistem Kesehatan Modern: Jika terbukti aman dan efektif melalui uji klinis yang ketat, daun randu dapat dipertimbangkan untuk diintegrasikan sebagai terapi pelengkap dalam sistem kesehatan modern, terutama untuk kondisi yang memiliki dukungan bukti kuat.

Daun Ceiba pentandra, atau daun randu, telah lama diakui dalam pengobatan tradisional karena beragam khasiatnya. Tinjauan ini menguraikan berbagai manfaat potensialnya, termasuk aktivitas anti-inflamasi, antioksidan, antibakteri, antipiretik, dan potensi antidiabetik, yang didukung oleh sejumlah penelitian pra-klinis dan etnofarmakologi. Kandungan fitokimia yang kaya, seperti flavonoid, tanin, dan saponin, diyakini menjadi dasar dari efek-efek ini.

Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa sebagian besar bukti ilmiah masih berada pada tahap awal, dengan banyak studi yang terbatas pada model in vitro atau hewan. Untuk sepenuhnya mengkonfirmasi dan memanfaatkan potensi daun randu, penelitian di masa depan harus berfokus pada uji klinis manusia yang ketat, standardisasi ekstrak, dan identifikasi senyawa aktif spesifik. Eksplorasi lebih lanjut ini tidak hanya akan memvalidasi penggunaan tradisional tetapi juga dapat membuka jalan bagi pengembangan terapi baru berbasis alam yang aman dan efektif.