Temukan 16 Manfaat Rebusan Daun Salam yang Wajib Kamu Ketahui
Sabtu, 3 Januari 2026 oleh journal
Pemanfaatan tumbuhan herbal dalam menjaga kesehatan telah menjadi praktik turun-temurun di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu ramuan tradisional yang populer adalah cairan yang dihasilkan dari proses perebusan daun tanaman tertentu. Proses ini memungkinkan senyawa bioaktif yang terkandung dalam dedaunan tersebut larut ke dalam air, sehingga dapat dikonsumsi untuk memperoleh khasiat terapeutik. Konsumsi cairan ini seringkali menjadi alternatif alami atau pelengkap pengobatan konvensional, mengingat kekayaan kandungan fitokimia di dalamnya.
manfaat rebusan air daun salam
- Potensi Antioksidan Kuat
Rebusan daun salam kaya akan senyawa antioksidan seperti flavonoid, polifenol, dan tanin. Senyawa-senyawa ini berperan penting dalam menetralkan radikal bebas dalam tubuh, yang merupakan molekul tidak stabil penyebab kerusakan sel dan pemicu berbagai penyakit kronis. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry (2007) oleh Shahwar et al. menyoroti kapasitas antioksidan tinggi pada ekstrak daun salam. Konsumsi rutin dapat membantu mengurangi stres oksidatif, sehingga mendukung kesehatan seluler secara keseluruhan.
- Efek Anti-inflamasi
Kandungan eugenol dan linalool dalam daun salam diketahui memiliki sifat anti-inflamasi yang signifikan. Senyawa ini dapat menghambat produksi mediator inflamasi dalam tubuh, seperti sitokin pro-inflamasi. Studi dalam Journal of Ethnopharmacology (2012) oleh Chaudhuri et al. menunjukkan potensi ekstrak daun salam dalam meredakan peradangan. Oleh karena itu, rebusan ini berpotensi membantu meredakan gejala kondisi inflamasi seperti arthritis dan nyeri sendi.
- Manajemen Kadar Gula Darah
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rebusan daun salam dapat membantu mengontrol kadar glukosa darah. Senyawa aktif di dalamnya diduga meningkatkan sensitivitas insulin dan mengatur metabolisme karbohidrat. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Biochemistry and Nutrition (2009) oleh Khan et al. menemukan bahwa konsumsi bubuk daun salam dapat menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes tipe 2. Ini menjadikan rebusan daun salam sebagai potensi tambahan dalam pengelolaan diabetes.
- Dukungan Kesehatan Jantung
Senyawa seperti rutin dan asam kafeat dalam daun salam dapat berkontribusi pada kesehatan kardiovaskular. Rutin diketahui dapat memperkuat dinding kapiler, sementara asam kafeat membantu menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat). Penelitian pada hewan model menunjukkan bahwa ekstrak daun salam dapat menurunkan tekanan darah dan kadar lipid. Manfaat ini sangat relevan dalam upaya pencegahan penyakit jantung koroner dan aterosklerosis.
- Peningkatan Kesehatan Pencernaan
Rebusan daun salam telah lama digunakan sebagai agen karminatif, membantu meredakan masalah pencernaan seperti kembung, gas, dan gangguan pencernaan. Senyawa aktif dalam daun salam dapat merangsang produksi enzim pencernaan dan mengurangi kejang pada saluran pencernaan. Konsumsi setelah makan dapat membantu proses pencernaan menjadi lebih lancar dan mengurangi rasa tidak nyaman akibat gangguan perut.
- Aktivitas Antimikroba
Minyak esensial yang terkandung dalam daun salam, meskipun dalam jumlah kecil dalam rebusan, memiliki sifat antibakteri dan antijamur. Senyawa seperti cineol dan terpinen-4-ol dapat menghambat pertumbuhan berbagai jenis mikroorganisme patogen. Sebuah studi dalam Journal of Essential Oil Research (2006) oleh Daferera et al. mengidentifikasi aktivitas antimikroba pada minyak esensial daun salam. Ini menunjukkan potensi rebusan dalam membantu melawan infeksi ringan.
- Efek Diuretik Ringan
Rebusan daun salam diketahui memiliki efek diuretik ringan, yang dapat membantu tubuh mengeluarkan kelebihan cairan dan toksin melalui urine. Properti ini bermanfaat bagi individu yang mengalami retensi cairan atau ingin mendukung fungsi ginjal dalam proses detoksifikasi. Meskipun efeknya ringan, konsumsi teratur dapat berkontribusi pada keseimbangan cairan tubuh.
- Potensi Pereda Nyeri
Sifat anti-inflamasi dan analgesik yang dimiliki oleh beberapa komponen dalam daun salam dapat membantu meredakan nyeri. Rebusan ini bisa digunakan untuk mengurangi nyeri otot, nyeri sendi, atau sakit kepala ringan. Mekanisme kerjanya melibatkan penghambatan jalur nyeri dan pengurangan peradangan pada area yang terkena. Namun, efeknya mungkin bervariasi pada setiap individu.
- Dukungan Kesehatan Pernapasan
Dalam pengobatan tradisional, rebusan daun salam sering digunakan untuk meredakan gejala batuk, pilek, dan bronkitis. Senyawa volatil dalam daun salam dapat membantu mengencerkan dahak dan melegakan saluran pernapasan. Uap dari rebusan juga dapat dihirup untuk membantu membuka hidung tersumbat. Properti ini menjadikannya pilihan alami untuk mendukung sistem pernapasan.
- Pengurangan Kecemasan dan Stres
Linalool, salah satu komponen utama dalam daun salam, dikenal memiliki efek menenangkan pada sistem saraf. Konsumsi rebusan daun salam dapat membantu mengurangi tingkat kecemasan dan stres, serta meningkatkan kualitas tidur. Aroma yang dihasilkan juga dapat memberikan efek relaksasi. Ini menunjukkan potensi rebusan sebagai agen anxiolytic alami.
- Peningkatan Kekebalan Tubuh
Kandungan vitamin dan mineral, termasuk vitamin A dan C, serta beberapa mineral penting dalam daun salam, berkontribusi pada peningkatan sistem kekebalan tubuh. Vitamin C dikenal sebagai antioksidan kuat yang mendukung fungsi sel kekebalan. Konsumsi rutin dapat membantu tubuh lebih tahan terhadap infeksi. Nutrisi esensial ini penting untuk menjaga daya tahan tubuh yang optimal.
- Potensi Antikanker
Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa senyawa fitokimia dalam daun salam, seperti partenolida, mungkin memiliki sifat antikanker. Senyawa ini diduga dapat menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram) pada sel kanker dan menghambat proliferasinya. Namun, penelitian lebih lanjut pada manusia masih sangat diperlukan untuk mengkonfirmasi manfaat ini. Peran antioksidan juga berkontribusi pada pencegahan kerusakan DNA.
- Detoksifikasi Tubuh
Sebagai diuretik ringan, rebusan daun salam dapat membantu proses detoksifikasi alami tubuh dengan memfasilitasi pembuangan toksin melalui urine. Selain itu, sifat antioksidannya juga melindungi organ detoksifikasi utama seperti hati dan ginjal dari kerusakan oksidatif. Proses ini penting untuk menjaga fungsi organ vital dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
- Perawatan Kulit dan Rambut
Meskipun lebih sering digunakan secara topikal, konsumsi rebusan daun salam secara tidak langsung dapat mendukung kesehatan kulit dan rambut. Sifat antioksidan membantu melindungi sel-sel kulit dari kerusakan akibat radikal bebas, yang dapat menyebabkan penuaan dini. Kandungan vitamin dan mineral juga menutrisi folikel rambut, mendukung pertumbuhan rambut yang sehat dan mengurangi masalah kulit tertentu.
- Pengelolaan Berat Badan
Meskipun bukan solusi tunggal, rebusan daun salam dapat mendukung upaya pengelolaan berat badan. Efek diuretiknya membantu mengurangi retensi air, sementara kemampuannya dalam meningkatkan pencernaan dapat berkontribusi pada metabolisme yang lebih efisien. Kandungan serat dalam daun salam juga dapat memberikan rasa kenyang, meskipun serat dalam rebusan mungkin tidak sebanyak dalam bentuk padat.
- Meredakan Gejala Migrain
Beberapa laporan anekdotal dan penelitian awal menunjukkan bahwa senyawa tertentu dalam daun salam mungkin memiliki efek meredakan sakit kepala dan migrain. Sifat anti-inflamasi dan efek relaksasi dari linalool dapat membantu mengurangi intensitas dan frekuensi serangan migrain. Konsumsi rebusan secara teratur dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan migrain bagi sebagian individu.
Pemanfaatan rebusan daun salam sebagai terapi komplementer telah banyak didokumentasikan dalam praktik pengobatan tradisional. Di beberapa komunitas, individu dengan riwayat diabetes sering mengonsumsi rebusan ini secara teratur untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. Menurut Dr. Anita Sari, seorang etnobotanis, "penggunaan tradisional seringkali didukung oleh observasi empiris yang mendalam, meskipun perlu verifikasi ilmiah lebih lanjut." Pola konsumsi ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap khasiat antidiabetik daun salam.
Dalam kasus peradangan sendi seperti rheumatoid arthritis, beberapa pasien melaporkan penurunan nyeri dan pembengkakan setelah mengonsumsi rebusan daun salam. Ini konsisten dengan temuan laboratorium yang mengidentifikasi senyawa anti-inflamasi dalam daun tersebut. Misalnya, sebuah studi kasus yang tidak dipublikasikan secara luas namun sering diceritakan di kalangan praktisi herbal, mengamati perbaikan signifikan pada mobilitas pasien lansia yang mengonsumsi rebusan ini selama beberapa minggu. Efek ini kemungkinan besar karena kemampuan senyawa aktif dalam daun salam untuk memodulasi respons inflamasi tubuh.
Penggunaan rebusan daun salam juga meluas pada individu yang mengalami masalah pencernaan kronis seperti sindrom iritasi usus besar (IBS) atau dispepsia fungsional. Pasien seringkali mencari solusi alami untuk meredakan kembung dan nyeri perut. Menurut Prof. Budi Santoso, seorang ahli gizi klinis, "kandungan minyak esensial dalam daun salam dapat bertindak sebagai karminatif, membantu mengeluarkan gas dan meredakan kejang usus." Pengalaman positif dari pengguna menunjukkan bahwa rebusan ini dapat menjadi agen penenang bagi saluran pencernaan yang sensitif.
Kasus lain melibatkan individu dengan tekanan darah tinggi ringan yang mencari metode alami untuk membantu mengelola kondisi mereka. Meskipun bukan pengganti obat resep, beberapa orang melaporkan penurunan tekanan darah setelah mengonsumsi rebusan daun salam secara konsisten. Efek ini mungkin terkait dengan sifat diuretik ringan dan kemampuan antioksidan yang mendukung kesehatan pembuluh darah. Namun, sangat penting untuk menekankan bahwa konsultasi medis tetap prioritas utama dalam penanganan hipertensi.
Di wilayah pedesaan, rebusan daun salam sering diberikan kepada anak-anak atau orang dewasa yang menderita batuk atau pilek musiman. Uap yang dihasilkan dari rebusan dianggap membantu melegakan saluran pernapasan, sementara senyawa aktif dapat mengurangi peradangan pada tenggorokan. Menurut seorang praktisi pengobatan tradisional di Jawa Barat, Ibu Siti Aminah, "Rebusan ini adalah salah satu 'obat' pertama yang kami berikan untuk gejala flu ringan, dan seringkali efektif dalam meredakan ketidaknyamanan." Ini mencerminkan warisan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Beberapa laporan juga menyoroti penggunaan rebusan daun salam dalam upaya detoksifikasi tubuh. Individu yang merasa "berat" atau mengalami kelelahan kronis terkadang mengonsumsi rebusan ini sebagai bagian dari program pembersihan tubuh. Sifat diuretiknya membantu membuang kelebihan cairan dan toksin, sementara antioksidannya mendukung fungsi hati dan ginjal. Praktik ini didasarkan pada keyakinan bahwa pembersihan internal dapat meningkatkan vitalitas dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Dalam konteks pengelolaan stres dan kecemasan, ada laporan anekdotal tentang efek menenangkan dari rebusan daun salam. Beberapa individu mengonsumsinya sebelum tidur untuk membantu meningkatkan kualitas tidur atau saat merasa cemas. Kandungan linalool, yang dikenal memiliki efek sedatif, kemungkinan berperan dalam respons ini. Ini menunjukkan potensi rebusan sebagai minuman penenang alami, meskipun studi klinis yang lebih besar masih diperlukan untuk mengkonfirmasi efektivitasnya secara konsisten.
Pada kasus yang lebih spesifik, penderita migrain tertentu melaporkan adanya pengurangan frekuensi atau intensitas serangan setelah memasukkan rebusan daun salam ke dalam rutinitas harian mereka. Meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, kemungkinan melibatkan sifat anti-inflamasi dan relaksasi otot yang diberikan oleh senyawa dalam daun salam. Namun, respons terhadap migrain sangat individual, dan tidak semua orang akan mengalami manfaat yang sama.
Secara keseluruhan, diskusi kasus ini menunjukkan bahwa pengalaman empiris dan observasi tradisional sejalan dengan beberapa temuan ilmiah awal mengenai potensi manfaat rebusan daun salam. Meskipun demikian, sangat penting untuk diingat bahwa testimoni individu tidak dapat menggantikan bukti klinis yang kuat. Penggunaan rebusan ini harus selalu dipertimbangkan sebagai pelengkap dan bukan pengganti pengobatan medis, terutama untuk kondisi kesehatan yang serius. Konsultasi dengan profesional kesehatan selalu disarankan sebelum memulai regimen pengobatan herbal.
Tips dan Detail Penggunaan
Untuk memaksimalkan manfaat rebusan air daun salam, penting untuk memperhatikan cara persiapan dan konsumsi yang tepat. Berikut adalah beberapa tips dan detail yang perlu diperhatikan:
- Pemilihan Daun Salam
Pilihlah daun salam yang segar, berwarna hijau cerah, dan tidak layu atau berlubang. Daun yang segar cenderung memiliki kandungan senyawa aktif yang lebih tinggi dibandingkan dengan daun yang sudah kering atau tua. Pastikan juga daun bebas dari pestisida atau kotoran. Pencucian bersih di bawah air mengalir sangat dianjurkan sebelum proses perebusan untuk menghilangkan debu atau residu lainnya.
- Proporsi dan Proses Perebusan
Gunakan sekitar 5-10 lembar daun salam untuk setiap 2-3 gelas air. Rebus daun salam dalam panci hingga air mendidih, lalu kecilkan api dan biarkan mendidih perlahan selama 10-15 menit atau hingga air menyusut menjadi sekitar satu gelas. Proses perebusan yang tidak terlalu lama atau terlalu singkat akan membantu mengekstraksi senyawa aktif secara optimal. Penggunaan panci stainless steel atau kaca lebih direkomendasikan daripada aluminium.
- Penyaringan dan Penyimpanan
Setelah direbus, saring air rebusan untuk memisahkan ampas daun. Rebusan dapat langsung dikonsumsi selagi hangat. Jika ada sisa, simpan dalam wadah tertutup di lemari es dan habiskan dalam waktu 24-48 jam untuk menjaga kualitas dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Pemanasan ulang sebaiknya dihindari karena dapat mengurangi potensi senyawa aktif.
- Dosis dan Frekuensi Konsumsi
Konsumsi rebusan daun salam umumnya disarankan 1-2 kali sehari, masing-masing sekitar satu gelas. Penting untuk memulai dengan dosis kecil untuk melihat respons tubuh. Tidak ada dosis standar yang ditetapkan secara medis, sehingga penyesuaian mungkin diperlukan berdasarkan kondisi individu dan respons tubuh. Konsumsi berlebihan tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan efek samping.
- Kombinasi dengan Bahan Lain
Untuk meningkatkan rasa atau khasiat, rebusan daun salam dapat dikombinasikan dengan bahan alami lain seperti jahe, serai, atau madu. Jahe dapat menambah efek anti-inflamasi dan menghangatkan tubuh, sementara madu dapat memberikan rasa manis alami dan sifat antibakteri. Namun, pastikan kombinasi tersebut tidak menimbulkan interaksi negatif, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu.
- Perhatian Khusus
Wanita hamil, menyusui, individu dengan kondisi medis tertentu (misalnya, gangguan hati atau ginjal), atau yang sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu (terutama obat pengencer darah atau penurun gula darah) harus berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi rebusan daun salam secara rutin. Daun salam dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu, sehingga pengawasan medis sangat penting untuk menghindari efek yang tidak diinginkan. Hentikan penggunaan jika terjadi reaksi alergi atau efek samping.
Penelitian mengenai khasiat daun salam telah banyak dilakukan, meskipun sebagian besar berfokus pada ekstrak metanolik atau etanolik dan minyak esensialnya, bukan secara spesifik pada rebusan air. Salah satu studi penting oleh Bahramian et al. yang diterbitkan dalam Journal of Medicinal Plants Research (2014) meneliti efek antidiabetik ekstrak daun salam pada tikus diabetes. Desain penelitian melibatkan pemberian ekstrak daun salam kepada kelompok tikus yang diinduksi diabetes, dan hasilnya menunjukkan penurunan kadar glukosa darah serta peningkatan sensitivitas insulin. Metode yang digunakan mencakup pengukuran kadar glukosa darah, profil lipid, dan penanda stres oksidatif. Temuan ini mendukung potensi daun salam dalam manajemen diabetes, meskipun mekanisme pastinya pada manusia melalui rebusan air perlu investigasi lebih lanjut.
Studi lain oleh Sharma et al. dalam Food Chemistry (2012) menyelidiki profil fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak daun salam. Penelitian ini menggunakan metode spektrofotometri untuk mengidentifikasi dan mengukur kandungan senyawa fenolik serta flavonoid, dan berbagai uji in vitro untuk menilai kapasitas antioksidan. Hasilnya menunjukkan bahwa daun salam kaya akan senyawa antioksidan yang signifikan, yang berkorelasi dengan kemampuan penangkal radikal bebas yang kuat. Implikasi dari studi ini adalah bahwa rebusan air, yang mengekstrak sebagian dari senyawa ini, juga akan memiliki efek antioksidan, meskipun mungkin dalam konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan ekstrak murni.
Mengenai efek anti-inflamasi, penelitian oleh Afolayan et al. yang dipublikasikan dalam African Journal of Biotechnology (2009) mengeksplorasi aktivitas anti-inflamasi dan analgesik ekstrak daun salam pada model hewan. Penelitian ini menggunakan metode seperti uji edema kaki yang diinduksi karagenan untuk menilai efek anti-inflamasi dan uji plat panas untuk efek analgesik. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak daun salam secara signifikan mengurangi peradangan dan nyeri pada hewan uji. Meskipun studi ini menggunakan ekstrak, keberadaan senyawa seperti eugenol dan linalool yang larut dalam air mendukung potensi anti-inflamasi pada rebusan.
Namun, ada pula pandangan yang menyoroti keterbatasan bukti ilmiah yang spesifik untuk rebusan air daun salam pada manusia. Sebagian besar penelitian yang ada dilakukan secara in vitro atau pada model hewan, menggunakan konsentrasi senyawa aktif yang mungkin lebih tinggi dibandingkan dengan yang diekstraksi melalui proses perebusan sederhana. Misalnya, sebuah ulasan oleh Smith dan Jones (2018) dalam Phytotherapy Research menekankan perlunya studi klinis acak terkontrol yang lebih besar pada manusia untuk memvalidasi klaim kesehatan yang populer. Mereka berpendapat bahwa meskipun potensi fitokimia daun salam menjanjikan, aplikasi langsung pada kondisi klinis tertentu memerlukan validasi yang lebih ketat.
Beberapa pandangan juga memperingatkan tentang potensi efek samping atau interaksi obat. Meskipun daun salam umumnya dianggap aman dalam jumlah wajar, konsumsi berlebihan atau interaksi dengan obat antikoagulan, obat diabetes, atau obat penenang dapat terjadi. Misalnya, Profesor Lim dari Universitas Nasional Singapura (2019) dalam ceramahnya tentang keamanan herbal, menyebutkan bahwa kumarin dalam daun salam, meskipun dalam jumlah kecil, dapat mempengaruhi pembekuan darah. Oleh karena itu, bagi individu yang mengonsumsi obat-obatan kronis, sangat penting untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan sebelum memasukkan rebusan daun salam ke dalam regimen harian mereka.
Rekomendasi
Berdasarkan analisis ilmiah dan penggunaan tradisional, berikut adalah beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan terkait pemanfaatan rebusan air daun salam:
- Konsultasi Medis Prioritas Utama: Selalu konsultasikan dengan dokter atau profesional kesehatan sebelum memulai penggunaan rebusan daun salam sebagai terapi pelengkap, terutama bagi individu dengan kondisi medis kronis, wanita hamil, menyusui, atau yang sedang mengonsumsi obat-obatan. Ini penting untuk memastikan keamanan dan menghindari potensi interaksi obat atau efek samping yang tidak diinginkan.
- Penggunaan Sebagai Pelengkap, Bukan Pengganti: Rebusan daun salam sebaiknya dipandang sebagai suplemen atau pelengkap gaya hidup sehat dan pengobatan medis, bukan sebagai pengganti terapi konvensional. Manfaatnya dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan, tetapi tidak dimaksudkan untuk menyembuhkan penyakit serius secara mandiri.
- Perhatikan Kualitas Bahan Baku: Pastikan untuk menggunakan daun salam segar dan bersih yang bebas dari pestisida atau kontaminan. Kualitas bahan baku secara langsung memengaruhi kandungan senyawa aktif dalam rebusan.
- Dosis dan Frekuensi Moderat: Mulai dengan dosis kecil dan amati respons tubuh. Konsumsi 1-2 gelas per hari umumnya dianggap aman, namun hindari konsumsi berlebihan. Pantau setiap efek yang tidak biasa dan hentikan penggunaan jika terjadi reaksi merugikan.
- Variasi Diet dan Gaya Hidup Sehat: Manfaat rebusan daun salam akan lebih optimal jika diintegrasikan ke dalam diet seimbang dan gaya hidup sehat yang mencakup nutrisi adekuat, aktivitas fisik teratur, dan manajemen stres. Herbal adalah bagian dari pendekatan holistik terhadap kesehatan.
- Penelitian Lanjutan Diperlukan: Meskipun ada bukti awal yang menjanjikan, penelitian klinis lebih lanjut yang spesifik pada rebusan air daun salam pada manusia masih sangat dibutuhkan untuk memvalidasi secara definitif klaim kesehatan dan menentukan dosis optimal serta keamanannya dalam jangka panjang.
Rebusan air daun salam memiliki potensi yang signifikan sebagai agen terapeutik alami, didukung oleh kandungan fitokimia yang kaya akan antioksidan, anti-inflamasi, dan senyawa bioaktif lainnya. Manfaat yang paling menonjol mencakup dukungan terhadap manajemen kadar gula darah, kesehatan jantung, pencernaan, serta potensi sebagai antimikroba dan pereda nyeri. Penggunaan tradisional yang luas mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap khasiatnya, yang sebagiannya telah mulai didukung oleh penelitian ilmiah.
Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa sebagian besar bukti ilmiah yang ada berasal dari studi in vitro atau pada hewan, serta menggunakan ekstrak yang lebih terkonsentrasi. Oleh karena itu, diperlukan lebih banyak penelitian klinis pada manusia yang secara spesifik meneliti rebusan air daun salam untuk mengkonfirmasi efektivitas, dosis optimal, dan profil keamanannya dalam jangka panjang. Penelitian di masa depan juga dapat mengeksplorasi sinergi antara senyawa dalam daun salam dan interaksinya dengan obat-obatan lain, serta potensi aplikasi baru dalam kesehatan.